Yenny Wahid (2)


Kali ini, ia bicara tentang perjalanan panjang hidupnya yang tak pernah tersentuh oleh sorot kamera

Ah.. Kau pasti hanya tahu hidupku bergelimang nikmat. Padahal jauh dari itu, hidupku adalah sebuah perjuangan panjang yang teramat berat.


Perempuan berambut sebahu itu lalu tertawa. Wajahnya tampak senang, meski ia baru saja mengucapkan sesuatu yang terasa getir. Tapi itulah Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid, sosok perempuan berdaya yang selalu disapa dengan nama Yenny Wahid. Sepanjang wawancara, ia begitu riang, hangat, ramah dan menyenangkan kendati beberapa waktu lalu ia dikeluarkan dari partai yang dibuatnya.

Tak jauh dari sifat ayahnya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, ia juga kerap memberi kejutan. Siang itu, ia terusan putih tanpa lengan yang dipadu dengan cardigan warna hitam senada dengan boot panjangnya. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan bando mutiara berpita hitam. Tahi lalat di atas hidung yang menjadi ciri khasnya kini sudah dihilangkan. Wajahnya bersih dan berseri-seri. “Kaget ya.. inilah penampilan sehari-hariku,”ujarnya memberi senyuman.

Di Wahid Institute, di mana Yenny duduk sebagai Direktur, pertemuan ini berawal. “Semua benda-benda yang ada di ruangan kerja ini merupakan kenang-kenangan ketika jadi pembicara. Tidak mewakili citra saya,”ujarnya sambil membeberkan satu persatu benda-benda yang menghiasi almarinya. Di dinding, ia letakkan foto dirinya bersama Gus Dur ketika sang ayah masih menjabat, piagam penghargaan sebagai salah satu wartawan terbaik, ijazah dari Harvard tempat ia menempuh pendidikan masternya, serta ucapan terima kasih dari Dhani Ahmad, personel Dewa, yang juga salah satu sahabat dekatnya.

“Mungkin hanya macan yang mewakili karakterku,” katanya kemudian sambil menunjuk sebuah patung macan kecil. “Selain karena shioku macan kayu, aku suka dengan macan,”ucapnya sambil memberikan alasan. Macan, katanya, hanya berburu untuk kebutuhan makan. Kedua, macan tak suka mengganggu, karena itu jangan diganggu. Ketiga, macan adalah hewan yang setia seumur hidup. Ia penyendiri, tapi ia terus melakukan apa yang harus dilakukan: menjaga hutan. “Aku ingin sekali menjadi macan.”

Apakah kesukaannya pada macan berkaitan dengan symbol kekuasaan –seperti yang dipercaya oleh kultur Asia- Yenny tak menyentuhnya. Namun situasi ini seolah menautkannya pada posisinya dalam pentas politik di Indonesia. Mungkin berita sedihnya, ia dikeluarkan dari partai yang dibentuk oleh ayahnya sendiri. “Persis yang dialami Mbak Mega waktu itu,”ia menjelaskan kondisi partainya yang ternyata tidak diakui oleh pemerintah yang sah setelah terjadi perpecahan di dalamnya. Apapun itu, dunia kekuasaan rupanya tak pernah pergi dalam kehidupannya dan keluarga. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jendral Partai politik, Ayahnya bekas Presiden RI, kakeknya mantan Menteri Agama di masa Soekarno, sementara kakek buyutnya, KH Hasyim Ashari adalah pendiri Nahdlatul Ulama. Ia memiliki beban sejarah sejak dilahirkan ke dunia ini.

Dilahirkan dalam Keluarga Komunitas


Kamu jangan membayangkan hidupku seperti di sangkar emas. Keluargaku adalah keluarga pergerakan, di mana mereka memberikan apa saja yang mereka miliki untuk orang yang membutuhkannya. Ketika kakekku wafat karena kecelakaan mobil di usianya yang ke-37, nenekku bekerja keras antara lain menjual beras demi membiayai keenam anak-anaknya yang masih kecil. Ia menjadi orang tua tunggal dan mendidik anak-anaknya seperti bos mafia, tegas dan keras, sehingga Bapakku yang tak mengenal rasa takut itu hanya takut kepadanya. Aku pikir, nenekku sangat menaruh harapan agar kelak anak-anaknya menjadi orang yang berguna bagi masyarakat.


Demikian halnya dengan Gus Dur, ia sempat menjadi tukang batu sewaktu kuliah di Kairo, dan jualan es ketika di Jombang, semua dilakukan demi menyambung kehidupan keluarga. Kami, aku dan ketiga saudaraku, dibesarkan dalam keluarga yang terus berjuang untuk membiayai diri sendiri. Kami tidak pernah lebih, tidak pernah kurang. Dalam keluarga kami, soal materi memang bukan hal yang paling esensial. Tapi kini aku merasa beruntung dibesarkan dalam suasana seperti itu karena akhirnya aku menjadi tangguh dalam situasi apapun. Ibaratnya, taruh di manapun, survive. Itulah ajaran yang ditanamkan oleh Bapak.


Sejak kecil, orang tuaku sudah mengontrak rumah di daerah Ciganjur. Beberapa kali aku sempat berpindah kontrakan, sampai orang tuaku dapat membeli rumah sekarang ini. Aku mengalami masa yang indah sebagai anak kampung dan menikmati permainan yang menyenangkan bersama teman-teman. Main petak umpet, mencari kecapi untuk kemudian dibuka dengan cara digencet di pintu, dan bermain kasti. Karena aku tak punya uang, kami membuat bola kasti dari kertas-kertas yang dikempalkan dan diikat dengan karet sehingga menyerupai bola. Namun, setiap libur panjang kenaikan kelas, aku justru dikirim ke pesantren di Jombang. Rasanya seperti hukuman, sementara teman yang lain bisa bermain-main, aku malah harus belajar agama. Padahal di rumah, aku sudah mendapat didikan agama yang ketat dari Ibuku. Kalau aku nggak ngaji, bisa-bisa aku dicubitin sama ibuku. Apalagi kalau nggak sholat, waaah….


Ayahku sudah dikenal sebagai Kyai (pemimpin umat) waktu itu. Apalagi, beliau lulusan Kairo yang pandai beberapa bahasa dan memiliki darah yang mengalir dari kakekku selaku pendiri NU. Sebagai orang pergerakan, kakekku atau juga Bapak, uangnya selalu habis untuk membiayai orang-orang yang lebih butuh pertolongan. Kalau aku minta uang buat sekolah, dia selalu bilang,” eh, bentar ya”. Itu karena uangnya sudah dikasih ke orang lain. Aku hidup dalam suasana seperti itu. Kalau ibuku nggak nabung, mungkin kami nggak bisa punya kulkas atau tivi. Meski demikian, kami merasa tidak pernah kekurangan. Tidak lebih tidak kurang. Buat kami, materi jauh dari pikiran. Nilai yang ditanamkan di keluarga benar-benar berada pada soal intelektualitas, kesederhanaan, dan ketulusan mengabdi pada masyarakat.


Karena itu, rumahku selalu terbuka setiap saat bagi orang yang datang dari berbagai penjuru. Jam lima pagi, pintu rumah sudah dibuka. Sehingga kadang ketika aku baru bangun dan pakai celana pendek, keluar kamar, tiba-tiba kaget. “ ha?.. sudah ada tamu?” Wah, aku langsung masuk kamar lagi dan berpakaian rapi. Banyak juga tamu yang menginap di rumah kami. Bapakpun sepertinya senang dengan situasi ini. Apalagi Bapak mendapat energi dari berkumpul dengan banyak orang. Begitulah, aku tumbuh besar di sebuah keluarga komunitas.


Kadang aku pingin banget dapat momen sendiri karena terbiasa terlalu banyak orang. Kadang aku merasa tak punya privacy. Bahkan waktu aku kecil pernah berjanji pada diriku sendiri. “Aku tak akan mau punya suami aktivis”.


Anak kedua dari empat bersaudara yang kesemuanya perempuan ini tiba-tiba diam dan berpikir. Lalu menyeletuk,” Atau karena aku anak kedua, merasa nggak diperhatikan, sehingga aku jadi butuh perhatian?” Ia kembali terbahak-bahak. Di antara saudaranya, memang hanya ia yang akhirnya mengikuti jejak ayahnya menjadi politisi.

Ayunan Kehidupan

Cita-citanya ingin menjadi animator. “Waktu aku kecil, aku sudah membayangkan kalau nanti aku hamil, aku membuat buku cerita anak bergambar yang indah. Persis yang dilakukan Madonna sekarang ini,” katanya menyebut nama penyanyi superstar yang meluncurkan buku cerita untuk anak-anak bergambar beberapa waktu lalu. Alasan itulah yang menguatkan tekadnya untuk ambil jurusan di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi ia malah diterima di fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) – yang di masa itu merupakan jurusan paling popular dan relatif sulit karena terlalu banyak peminatnya.

“Bapak bilang, kamu kan seneng menggambar. Sudahlah masuk jurusan Visual di Trisakti saja,” kenangnya. Ia akhirnya menamatkan pendidikan S1-nya di Jurusan Visual Universitas Trisakti, Jakarta. “Waktu itu aku berangkat ke kampus dengan menggunakan angkutan umum, ditempuh selama dua jam perjalanan, dan ganti angkutan sebanyak 4 kali.” (Sayang, hingga kini ia belum berhasil mewujudkan cita-citanya membuat buku cerita anak-anak bergambar. Mungkin juga karena ia masih melajang, maka ketika menemani ayahnya, ia suka menghabiskan waktu untuk menggambar sket-sket wajah pemimpin dunia ketika ia menemani ayahnya bertemu mereka. “Untuk menghilangkan bosan.”)

Tapi nasib membawanya ke tempat lain. Selulus kuliah, ia malah mendaftar sebagai wartawan di Koran terbitan Australia, The Sydney Morning Herald dan The Age (Melbourne). “Waktu itu sih awalnya nothing to loose. Ada lowongan, coba-coba,”kata Yenny yang kemudian ditempatkan di daerah-daerah konflik, seperti Timor Timur, Ambon, dan Aceh. Sebagai orang yang suka dengan tantangan, ia sangat antusias menerima pekerjaan ini. ”Aku memang orang yang selalu penasaran akan kebenaran. Apa sih yang ada di balik semua ini,” kata Yenny yang akhirnya terpana dengan kejadian di Tim-tim

“Sebagai orang yang dibesarkan dalam nilai-nilai kebangsaan dan nasionalisme melihat Indonesia dikategorikan sebagai penjahat perang, berat rasanya. Tapi di sisi lain aku juga melihat kekejaman pada rakyat Tim-tim. Nuraniku yang dibesarkan dalam nilai-nilai humanisme juga berontak,”ucap Yenny yang pernah melihat badan perempuan tanpa kepala. “Beraat sekali,” nadanya mendesah. Trauma itu masih terasa. “Ketika PBB tiba di bandara Komoro, aku bener-bener menangis. Rasanya seperti tanganku hilang diamputasi.” Pengalaman ini membuat ia akhirnya mengubur cita-citanya sebagai animator. Persoalan negara mulai menjadi pemikiran serius untuknya.

Di saat yang bersamaan, ia terpaksa pulang, dan keluar dari pekerjaannya. Ayahnya diangkat menjadi Presiden RI. Ia pun membantu sang ayahnya sebagai staf khusus yang bertugas untuk memberikan berbagai informasi yang masuk. Seperti dikatakan Yenny, pekerjaan ini sangat berat mengingat sang Ayah banyak dikelilingi oleh orang-orang yang Asal Bapak Senang (ABS). Apalagi ia masih dalam usia yang relatif muda dan belum dapat banyak pengalaman dalam dunia politik. “Itu yang membuat aku berantem melulu sama Bapak. Tapi berantem dengan niat baik. Aku memposisikan diri sebagai orang yang selalu membawa kabar buruk. Memang jadi nggak popular, omong kok selalu yang jelek-jelek. Tapi itu penting. Itu adalah cara ungkapin rasa cintaku pada beliau. Dan akhirnya, Bapak menyadari bahwa apa yang kukatakan bukan omong kosong.”

Hidupnya kembali terayun ketika akhirnya ia dihadapkan pada sebuah fakta ketika ayahnya diturunkan dari jabatan secara paksa melalui Sidang Istimewa MPR 23 Juli 2001. Di sini ia belajar habis-habisan mengenai makna sebuah persahabatan. “Ketika di Istana, semua orang datang. Waktu Bapakku jatuh, lengser, nggak ada orang yang mau lagi berteman dalam tanda kutip. Babak belur perasaanku waktu itu,”kata Yenny yang saat itu merasa sangat frustasi sehingga ia terpaksa meminta petunjuk kyai agar diberi rapalan untuk membantu menentramkan perasaannya. Lalu ia tersenyum lepas. “Menurutku, peristiwa itu adalah sebuah keberuntungan. Aku menemui proses alami untuk mengerti mana teman yang asli, merekalah orang-orang yang sangat berharga sekali,” lanjutnya. “Nah, ini juga sifat macan, setia dengan teman. Memang susah untuk jadi temenku. Tapi kalau sudah jadi teman, aku pasti keep it for life. “

Politik itu Indah

Aku akhirnya jatuh cinta pada politik setelah merekam jejak panjang Bapak. Aku ingat betul, setelah Bapak lengser, kami pergi ke Amerika untuk melakukan cek kesehatan. Dari sana, kami langsung pulang ke Jawa Timur. Sepanjang jalan dari bandara Surabaya hingga kota tempat kami singgah- sayang aku lupa namanya- masyarakat menangis, mengelu-elukan Bapak, mereka pengen pegang mobil Bapak. Bahkan sampai di lapangan, ratusan ribu orang ikut menangis. Panggung nyaris roboh, dan banyak orang rela menyangga panggung supaya Bapak masih bisa meneruskan pidatonya. Panggung dan lapangan sudah penuh air mata. Aku ikut menangis melihat keadaan itu.

Di situ aku berpikir. Oh, my God, mereka menitipkan amanah dan aspirasi kepada kami. Perjuangan ini harus bisa diteruskan, jangan sampai berhenti. Dan begitulah, aku membuat janji pada diriku sendiri. I will fight for them. Tapi memang bukan sebuah cerita instan. Aku memutuskan hingga tiga tahun kemudian untuk kemudian terjun di politik praktis. Selama itu, aku benar-benar berpikir, karena tahu betapa beratnya pengorbanan yang harus aku lakukan dan kuberikan. Mungkin termasuk akhirnya aku tak sempat memikirkan pernikahanku, karena aku terlalu fokus pada pengabdianku pada masyarakat.


Ya, akhirnya aku memutuskan terjun ke politik. Aku ingin mengubah citra mengenai politisi. Aku ingin mengajak orang-orang baik untuk masuk ke politik. Target RI-1? Ha ha ha … apapun lah yang penting bisa membawa kemaslahatan buat masyarakat. Tak mungkinlah aku menggantikan Bapak menjadi Ketua NU. Justru lebih masuk akal meraih target menjadi RI-I daripada Ketua NU. Bisa-bisa terjadi pertarungan luar biasa terhadap tradisi yang sudah ada selama ratusan tahun, karena di NU sudah ada Muslimat. Semua sudah dikapling-kapling. Kecuali aku membangun Muslimat yang lebih besar. Tapi ini sulitlah, karena lebih konservatif. Jangan-jangan nanti aku sudah tak boleh pakai sepatu boot. Kan berat. Ha ha ha…


Yang pasti, aku tidak akan masuk ruang ranah agama. Mungkin untukku terlalu sempit. Politik jauh memberikan ruang bagi masyarakat kita. Selain itu, sudah ada teman lain yang berada di situ. Aku tidak punya cukup kemampuan di argumen agama. Itu harus yang luar biasa seperti Gus Dur. Aku tak bisa. Makanya aku bikin Wahid Institute, supaya anak-anak muda bisa bereksplorasi, mereka bisa melakukan re-interpretasi secara bebas dalam pemahaman terhadap Islam melalui kitab-kitab yang ada. Sementara aku, akan terus memperjuangkan masyarakat kelas bawah yang menjadi bagian besar dari keluarga UN.


Ada satu hal lain lagi yang berkesan dalam hidupku ketika aku bertemu dengan kalangan grassroots ketika melakukan perjalanan politik. Aku banyak menghabiskan waktu di jalan, berinteraksi dengan bermacam orang, keluar masuk pelosok desa, menghadiri undangan menjadi pembicara atau berkampanye. Yang memberiku energi adalah ketika aku bertemu dengan orang-orang yang hidupnya sangat sederhana, tapi mereka memiliki ketulusan yang luar biasa. Pernah aku ke Jember, setelah selesai berpidato di hadapan ribuan massa, turun panggung dan seperti biasa aku bersalaman dengan mereka. Tiba-tiba di antara mereka ada yang menyelipkan uang ke tanganku. Sepuluh ribu, lima ribu, uangnya sudah lusuh dan bau. Padahal mereka hanya memiliki uang Rp. 20 ribu di dompetnya! Tetapi mereka percaya, mereka ingin mendapatkan berkah apabila memberikan uang kepada orang yang mereja hormati. Uang yang sedikit pun dibagi dua. Aku rasanya ingin menangis. Uang lusuh yang kudapatkan itu akhirnya kuluruskan dan kusimpan baik-baik, sebagai pengingat bahwa aku membawa amanah mereka. Perjalanan semacam inilah yang sering kulakukan sekarang.


Kehidupan berpolitik mengajarkan aku, seperti yang dikatakan John F. Kennedy, merupakan profesi yang sangat mulia bila digunakan untuk sebesar-besarnya kepentingan masyarakat. Satu Undang-Undang bisa mengubah dan mensejahterakan masyarakat. Tapi di sisi lain, politik bisa menjadi senjata yang mematikan ketika dipakai untuk ambisi seseorang.


Dalam politik, aku belajar agar tak terlalu naïf. Waktu di Harvard, aku pernah diberitahu bahwa berpolitik itu seperti peran, jangan diambil hati. Kalau orang mengatakan sesuatu pada kita, itu bukan berarti membicarakan kita, melainkan peran kita. Tapi prakteknya? Sakit sekali! Bila aku gemuk, dikatakan hamil. Ketika kurus, dikatakan habis menggugurkan kandungan. When! Aku pernah mengadu sama Bapak. Dia bilang, “difitnah begitu saja sudah pusing. Aku malah difitnah akidahku melenceng.” Hhhh… akhirnya aku lebih tenang. Meski aku punya kewajiban untuk meminimalisir kesan negatif orang terhadap aku.


Aku sangat kagum dengan Bapakku. Aku juga suka Hugo Chaves atas energi dan keyakinan hidupnya. Castro yan terkesan gila tapi lucu, dan punya kemampuan menertawakan diri sendiri. Dan Gandhi! Aduh aku suka karena ia jujur pada dirinya. Ia bahkan merelakan dirinya pernah tidur dengan dua orang wanita hanya untuk mengatakan pada masyarakatnya bahwa ia adalah orang biasa.


Salah satu yang menjadi pemikiran teman-teman adalah mengenai simbol tradisional yang tetap kupakai hingga kini, kerudung. Banyak teman feminis mengatakan bahwa kerudung ini kian menyuburkan represi terhadap wanita. Tapi kukatakan bahwa pertempuranku bukan di situ, pertempuranku lain, aku harus berbaur dengan orang-orang yang hatinya ingin kumenangkan. Aku akan sangat bangga bila komunitas tradisional maju, melihat kita jadi terinspirasi, itulah yang ingin aku capai. Apa karena penampilanku ini aku jadi terasa orang yang konservatif ya? Padahal aku kan aslinya ramai. Dan bahkan sudah bebal bila dikritik orang,”Masuk angin tuh, Mbak.. bolongnya terlalu banyak.” Ha ha ha ha…..


BAPAK

Bapak adalah sebuah nama yang sulit sekali dipisahkan keberadaannya dengan dirinya. Selain darah biologis dan keterikatan sosiologis, sisi psikologisnya sukar berpamitan dengan nama yang melekat pada dirinya. Meski ia mengaku pernah mengalami rasa yang menyiksa karena sang ayah – menurut pandangan masa kecilnya- tak bisa mengekpresikan rasa sayangnya untuk anaknya.

Bapakku adalah kyai, orang Jawa, yang tak bisa mengekspresikan perasaannya. Waktu kecil, aku sering bertanya, mengapa Bapak tak bisa glendot-glendot sama anaknya seperti bapak teman-temanku yang lain? Bapak kaku banget! Mungkin karena orang pesantren, dia tak terbiasa mengungkapkan perasaan. Padahal kadang aku pengen dipeluk, seperti teman-teman yang lain. Hingga suatu saat, ketika duduk di bangku SMA, aku berpikiran bahwa bentuk hubungan ini harus diubah. Bila ada yang berubah dari dinamika hubungan ini tentulah harus datang dari aku, karena aku masih muda.


Suatu hari, ketika Bapak sedang duduk di sofa, sendirian, aku tiba-tiba datang dan … merangkulnya! Eh, kok tubuh Bapak tiba-tiba jadi kaku kayak boneka. Aku yang tak siap dengan kondisi ini juga ikut-ikutan kaku, bingung harus bagaimana.. Akhirnya kita berdua jadi duduk tegang, diam, sampai akhirnya kita berdua menjadi rileks. Ha ha ha .. sejak saat itu, aku sudah bisa glendotan sama Bapak. Kalau kamu tanya sekarang, aku suka mengelus wajahnya, lalu kubilang, ”i love you, Pak”. Dan dia selalu menjawab pendek dengan gayanya: hmh!

Gaya singkat ini juga yang aku rasakan ketika aku berkonsultasi dengan Bapak ketika aku masih bekerja sebagai konsultan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Padahal aku pingin banget diberikan masukan yang panjang. Tapi kalau aku bertanya padanya, jawabnya begini: “Ya, kalau begini resikonya begini, kalau begitu resikonya itu.” Sudah. Akhirnya persoalan kembali ke aku. Tapi meski demikian, aku belajar banyak dari Bapak mengenai kearifan kehidupan.


Salah satu pengalaman yang paling berkesan dengan Bapak adalah ketika aku mengantar beliau periksa kesehatan di Amerika, jauh-jauh hari sebelum pencalonan menjadi presiden. Kepada dokter-dokter yang merawatnya, beliau bilang begini: “ I am going to election and I am going to win!”. Wah, aku sampai kaget sekali, apalagi dokter-dokter langsung memanggilnya Mr. President. Padahal pemilu saja belum berlangsung. Tapi, ternyata hal itu terjadi!


Sementara itu, aku baru tahu dari orang lain, bahwa Bapak sudah mengatakan hal ini bahkan beberapa tahun sebelum pemilu dimulai! Di sinilah aku dapat pelajaran tentang kehidupan. Nothing is impossible. Tidak ada yang tidak mungkin. Kita harus bekerja sekeras-kerasnya dan Tuhan akan mendengar. Jangan batasi dulu kepala kita. Dari Bapak, saya belajar bahwa dia membuat standar, membuat ekpektasi ke diri sendiri dan orang lain, dan dia bekerja keras untuk itu.


Aku senang memiliki Bapak yang dikenal kontroversi. Bapak selalu berpikir di luar pakem, kreativitasnya luas biasa. Hidup menjadi bervariasi. Walau kadang, kita mengeluh, aduh Pak… Tapi dia menembus batas, sekat-sekat yang ada, dan membuat kita bisa berpikir merdeka.


Tapi bila kini aku terjun sebagai aktivis, semua ini karena pengembaraanku. Bapak mungkin mendukungku dalam bentuk lain karena beliau sama sekali takut dianggap nepotis. Ketika aku diangkat jadi Sekjen PKB, Bapak tak pernah memilihku. Dia vote untuk orang lain, karena dia benar-benar tak mau dianggap nepotis. Waktu muktamar PKB dan aku punya suara untuk menang, Bapak malah bilang, jangan maju. Aduh.. mau sebel bagaimana, dia my leader, dalam aturan partai aku harus taat. Meski begitu, belakangan ini aku banyak berpikir, dan merasakan apa yang dilakukan Bapak benar. Kepercayaan itu penting buatku. Walau aku kerja keras, berani bersaing, tapi begitu diveto, ya jadi prajurit lagi. But it’s ok, it’s good, sebab kalau terlalu cepat nanti disangka dikarbit. Aku percaya untuk menjadi pemimpin harus bekerja dulu dari bawah, harus mengenal masyarakat, harus berkeliling ke mana-mana, memahami kesusahan mereka.


Memang aku harus mencari jalanku sendiri. Aku sangat mengapresiasi ini, dan kurasa Bapak bangga juga, kalau aku ”jadi” itu terjadi bukan karena campur tangan. Matang tak dikarbit. Bapak tahu, kita pasti akan survive, dan ternyata aku benar-benar ingin membuatnya bangga. Sewaktu di wisuda fakultas di Harvard, aku berusaha habis-habisan untuk membuat pidato terbaik di kelas. Pemenang lomba pidato akan membacakan pidatonya di acara wisuda nanti. Wah, mendengar kesempatan ini aku kerja habis-habisan, ngoyo banget, dan aku menang! Itulah saat pertama aku pidato di depan Bapak dan Ibuku. Aku lihat Ibuku menangis terharu waktu itu. Tapi Bapakku, biasa saja, karena ia tak pernah bisa mengekspresikan perasaannya. Tapi aku tahu, di lubuk hati terdalam, pasti dia cinta banget sama aku. Meski beliau tak cerita atau memuji pidatoku, ternyata beliau memuji-muji pidatoku kepada teman-temannya. Hal ini aku denger dari teman-teman Bapakku, dan orang sejagad tahu tentang pidato itu. Tapi memuji di depanku, itu tak mungkin. Tapi aku tahu, dia sangat mencintaiku.


Dari air cucian kaki hingga Stuart Weitzman

Ia boleh saja bercerita tentang rasionalitas di berbagai panggung-panggung seminar. Tapi ketika menyentuh soal spiritualitas, Yenny sangat terlarut di dalamnya. ”I am a border person. Harus bisa masuk dua-duanya. Jadi bisa dibilang hidupku itu dari lantai diskusi sampai lantai dansa. Dari ruang ngaji sampai ngobrol di kafe hingga pagi. Ini adalah bagian untuk memahami masyarakat secara keseluruhan,” katanya. ”Itulah sebabnya, kadang aku merasa menjadi orang yang berbahagia.”

”Aku adalah orang yang sangat keras kepala. Ini sebabnya aku sering berantem dengan Bapak dan Ibuku. Aku sama ibuku mungkin tak pernah cocok karena cara dalam memandang persoalan selalu berbeda. Tapi i love her so much. Seperti juga Bapak. Tapi i love my family. Aku justru menemukan mereka sekarang ini. Sumber kebahagiaan itu ternyata bukan datang dari kekuasaan, materi, melainkan dalam diri dan keluarga.

Bahkan kemarin ada seorang nyai mengatakan padaku, kamu lagi banyak persoalan, kan?Persoalan itu akan selesai kalau aku meminum air cucian kaki ibuku. Aku percaya dan melakukan itu. Kucuci kaki ibuku, dan aku melakukan itu. Aku siap melakukan itu karena aku mencintai orang tuaku sangat dalam. Kita bisa membuat pengorbanan karena cinta. Dan benar. Persoalan banyak hilang. Bahkan aku menemukan cinta di sana.

Aku banyak menemukan kedamaian dari ritual-ritual semacam itu. Aku main ayok, jalan ayok, shopping ayo, tapi rapalan juga memberikan kedamaian. NU banget deeh. Tapi kupikir, hal ini kan sebagai meditasi kita. Cara mengantisipasi dan menenangkan pikiran sehingga kualitas hidup menjadi jelas. Nggak usah ngoyo dalam hidup.

Namun persoalan itu tak ada hubungan sama sekali saat ia bicara tentang kesukaannya yang lain: shopping! ”Hei… don’t tell me that Stuart Weistman’s boutique 65% discount –ya,” ia tertawa.

Ini tak ada urusan dengan mantan anak presiden, lah. Ini soal kesukaan cewek saja. Aku suka belanja, apalagi kalau ada discount besar-besaran. Terutama kalau aku sedang di luar negeri. Aku punya sepatu Jimmy Choo, Loubotin, semakin haknya tinggi semakin baik. Ha ha ha… eh, tapi sekarang aku mulai menahan diri, karena sakit! Aku suka sesuatu yang edgy. Aku juga suka tas Louis Vuitton. Burberry dapat discount 70%, Channel klasik, dan Kate Spade aku juga senang. Tapi sebenarnya minatku pada Miu Miu karena playful.


“Hi.. I’m in love!”

Cinta di sini adalah cinta pada seorang pria. Masalah yang rupanya mengganjal pada dirinya hingga di usia 35. Bukan tak berarti mencoba, ia sudah berkali-kali putus cinta, tapi tak juga menemukan pelabuhan hatinya. ”Mungkin dulu aku sangat keras kepala, jadi kami sering berantem,” katanya jujur. Di sisi lain, tekanan hidupnya berkaitan dengan situasi politik yang mengelilinginya, ia kadang merasa susah untuk memilah teman yang tulus untuk dirinya. ”Mungkin ini saat yang tepat, aku tak berada dalam lingkaran politik. Tuhan memberi aku waktu untuk mendapatkan cinta itu.”

Aku selalu jatuh cinta pada pandangan pertama. Yang kuharapkan tentu seorang lelaki yang unik. Misalnya saja lelaki Madura, tapi dia bisa berbahasa Itali. Itu kan sesuatu yang eksotik. Dia harus tinggi, untuk mengantisipasi aku yang suka sekali mengenakan sepatu berhak tinggi. Ha ha ha, soalnya dulu aku dianggap chubby.Tapi di sisi lain, kalau dengan yang tinggi, I feel protected. Ia juga harus bisa masuk dalam dua dunia, dunia tradisionalku tapi juga cukup punya kepekaan internasional. Dia harus punya selera humor yang tinggi. Harus berani. Tak mesti keluarga kyai, asal dia memahami sisi spiritualitasku. Ternyata soal terakhir ini sangat penting. Aku rindu dengan lelaki yang bisa menjadi imam ketika kita sholat.

Kegagalan percintaannya selama ini diakui karena ia masih belum beruntung, selain ia masih kekanak-kanakan dan memiliki emosi yang meledak-ledak. Barangkali karena tekanan hidupnya juga demikian luar biasa bersama keluarganya. “Pada saat Bapak lengser, dia seperti kuperlakukan sasak tinju. Sedikit masalah, langsung ngamuk,” akunya. Tapi soal patah hati berkali-kali, ujarnya, justru memberikan kekuatan baginya. “Ini kan bukti bahwa kamu bisa survive. It’s fine. Hidup terus berlanjut.” Meski sebenarnya, dalam hatinya ia sangat takut dengan komitmen. “Takut banget. Takit terpenjara. Aku ingin seperti macan, maunya bebas saja, tapi tetap ada pendampingnya, menjaga hutan.”

Di luar, dalam dunia politik, ia sering “berantem”. Satu hal yang diinginkannya adalah ”I want my home to be home.” Dan ia mengalami kesulitan dalam hal ini.

Aku lagi baca Twilight (Stephany Meyer) dan I feel in love with Edward (tokoh utamanya-red). Romantis sekali. Aku ingin menemukan seseorang yang seperti dia. Yah, I am a romatic at heart. Love, bener-bener memberikan kita suatu energi yang luar biasa. Aku rindu dengan cerita romantis yang sering diceritakan nenekku tentang kakekku ketika aku masih sekolah dulu. Aku pingin punya cerita romantik. Walau di luar aku terlihat garang, tapi di dalam, aku hopeless romantic! Aku sungguh ingin jatuh cinta. Aku nggak pingin kawin terpaksa.


Yang kubutuhkan, suamiku bisa memberiku ruang gerak bagi ekspresiku di luar. Bila saja dia bisa melakukan ini, maka aku akan perlakukan dia seperti raja. Aku tahu, siapapun yang menjadi suamiku pasti berat karena beban sejarah yang ada padaku. Berat memiliki istri yang punya eksistensi di dalam masyarakat. Itulah janjiku, aku akan memperlakukan dia seperti raja ketika di rumah.


Bahkan aku sudah membayangkan sebuah pernikahan di mana semua orang having fun di pestaku. Tak mau mewah, tapi aku mengundang banyak teman, dan semua orang bisa berpartisipasi. Ibaratnya tiga hari tiga malam, pedagang-pedagang kampung datang, Mbah Surip manggung. Aku dan suamiku menemani teman-teman mengobrol. Makin malam, ada band mau main silakan. Pesta rakyatlah.


Obsesi yang ingin dilakukan sekarang: ”Aku ingin memberikan cucu segera ke Bapak. Aku pingin menikah atas alasan itu. Aku ingin anak-anakku merasakan kasih sayang kakek dan neneknya. ” Hikmah atas kejadian di partainya, ternyata justru memberikan waktu untuk dia untuk berinvestasi dalam cinta. ”I met him..” ia pun menyambut malam dengan lelaki yang ditemuinya setelah meminum air cucian kaki ibunya. ”Sudah ya wawancaranya, aku mau pacarann niih…” Lagi-lagi ia tertawa, membaca sms yang baru saja dikirim kekasihnya.

Itulah Yenny. Di balik segala keseriusannya dalam memperjuangkan kebenaran, ia adalah orang yang menikmati setiap detik kehidupannya. Dan bila sejarah adalah sebuah estafet, apa yang ia lakukan kini adalah sebagai upaya untuk melanjutkan dinasti Wahid untuk masa depan Indonesia, dengan pendekatan kebaruan dan kekinian untuk membawa pendekatan Islam yang lebih humanis. (Rustika Herlambang)
sumber http://rustikaherlambang.wordpress.com
Fotografer: Honda Tranggono. stylist: Karin wijaya. Busana: Ghea Panggabean (artikel untuk dewi…)