Lenny Marlina Si “Centil” dari Ciateul



Aktris film terkenal Lenny Marlina terlahir di Jalan Ciateul, Bandung, pada 19 Februari 1954. Nama Jalan Ciateul tempat kelahiran Lenny amat begitu disukainya sehingga dia pakai sebagai judul buku otobiografinya, “Si Lenny dari Ciateul” yang diluncurkan di Hotel Mulia, Senayan Jakarta persis pada tanggal 19 Februari 2004 lalu menandai genap usia paruh baya dia 50 tahun.

Putri sulung dari pasangan ayah Tatang Hasan Suharna dan ibu Yety Suryatin (68 tahun), ini menyebut dirinya lahir bukanlah sebagai orang berada melainkan tak lebih seorang bocah putri kecil biasa yang hidup di tengah-tengah keluarga dengan ekonomi pas-pasan.

Di kemudian hari rumah sederhana yang mereka tempati masih harus ditambah penghuni baru yaitu sejumlah adik buat Lenny. Jadilah mereka semua tidur berhimpitan bak ikan pindang.

Dia bertutur daerah itu sangat terkenal di Bandung hingga seantero Nusantara. Maklum, Ciateul adalah daerah asal Ibu Inggit Garnasih istri pertama Bung Karno, tokoh proklamator bangsa. Demikian pula artis penyanyi Merry Andani. Bahkan, maaf, ini kata Lenny, pelacur pun terkenal dari situ.

Catatan terpenting kehidupan Lenny bermula ketika dia berusia 16 tahun duduk di bangku SMA tampil sebagai juara dua kontes Pemilihan Ratu Kebaya Kota Bandung, di tahun 1970. “Sampai SMA, saya sudah terkenal di Ciateul,” kenangnya. Bapak Perfilman Nasional Usmar Ismail pertama kali menemukan dia di awal tahun 1970 itu.

Sineas besar itu bukan hanya melibatkan Lenny untuk pertamakali dalam film Ananda melainkan tak tanggung-tanggung, dia langsung diberi kesempatan memerankan enam karakter sekaligus. Mulai penjual pisang goreng, penari bar, hingga istri simpanan pejabat. Akting Lenny yang bagus menjadikan dia sebagai aktris pendatang baru terbaik di Asia ketika itu.

Amanda, itulah film pertama Lenny digarap oleh Usmar Ismail. Mendapat tambahan bimbingan dari aktor senior Rachmat Hidayat Lenny semakin cepat populer di dunia film. Semenjak itulah nama neng geulis yang dimasa kecil dipanggil Nonon itu mulai melambung di perfilman nasional. "Saya pernah main dalam 15 produksi film per tahun. Dalam tiga tahun film saya berjumlah 45 film," ujar Nonon ehh… Lenny Marlina ibu dua orang anak dari suami pertama, dan dua orang anak pula dari suami kedua Bambang W Soeharto.

Sepanjang berkarir akting Lenny bagus namun tak satu kalipun dia pernah meraih piala Citra, lambang bergengsi film layar lebar Indonesia. Lenny hanya pernah masuk nominasi dua kali lewat film Jangan Ambil Nyawaku (FFI 1982) dan Kembang Kertas (FFI 1985). Walau demikian beberapa penghargaan tertinggi dunia seni peran pernah dia peroleh, antara lain ''The Best Actress PWI (1971) untuk film Biarlah Aku Pergi, ''Aktris Terbaik PWI'' (1973) dalam Di Mana Kau Ibu, ''Aktris Harapan I PWI'' (1974) untuk film Ranjang Pengantin, dan ''Pemeran Wanita dengan Penghargaan'' untuk Rio Anakku (FFI 1974).

Kalau mau dihitung Lenny telah bermain dalam hampir 100 judul film. Yang membuat dia hebat perannya dalam semua film itu adalah sebagai pemeran utama wanita. Film terakhir yang dia dukung adalah sinetron televisi, “Kau Selalu di Hatiku”, disiarkan tahun 1997. Setelah itu dia berhenti main film menikah dengan Bambang W Soeharto, yang lalu membuat dia ikut-ikutan berpolitik mengikuti pakem suami baru.

Lenny bertutur sepanjang dekade 1970-an adalah masa kejayaan film nasional yang mengangkat kehidupan dia berikut orangtua dan adik-adiknya dari sisi yang kelam. Berkat produksi film nasional kehidupan Lenny dan keluarga yang semula sederhana berubah total bagaikan disulap sebab Lenny Marlina telah menjadi kaya raya karena film. Namun kehidupan dia yang berubah 180 derajat sesungguhnya adalah karena dia bekerja keras berusaha untuk bangkit dari kondisi kehidupan yang pas-pasan.

Semenjak tahun 1984 Lenny mulai jarang tampil di layar lebar. Kiprahnya lebih banyak untuk membesut karier baru sebagai pengusaha. Sepenggal kecil sisi lain kekelaman hidup si “manusia biasa” ini mulai muncul yang mengharuskan dia mengarungi samudra kehidupan yang penuh riak dan gelombang. Perkawinan dia dengan Gatot Teguh Arifianto harus kandas setelah dibina dan dipertahankan tak kurang 23 tahun. Demikian pula bisnis yang dia rintis sejak lama akhirnya tak berkembang.

Setelah bercerai dari suami pertama dia menikah dengan Bambang W Soeharto, tokoh Kosgoro dan aktivis HAM. Sejak itu Lenny yang tak aktif lagi di film berusaha menyelami kehidupan spiritual. Dia mendalami agama yang dianutnya. Lenny berusaha menjadi pribadi yang saleh. Dia sudah tiga kali menunaikan ibadah haji dan satu kali Umrah. Kisah sedih lain masih banyak yang dia uraikan dalam otobiografi setebal 500 halaman yang ditulis oleh novelis Titi Said, pengamat film Salim Said, serta Lies Said, Muthiah Alhasany, Titien Sukmono, dan Yuni.

Dalam bukunya Lenny berusaha bicara jujur siapa diri dia yang sesungguhnya. Baik sebelum dibentuk oleh Usmar Ismail maupun sebelum dipetik ulang oleh Bambang. Tanpa rasa malu dia mau menyingkap sisi kelam kehidupan yang seharusnya sudah pantas dikubur dalam-dalam. Lenny berusaha jujur dan terbuka. "Tapi, ini memang kenyataan hidup saya seperti itu," kata dia.

Perjalanan hidup tetaplah misteri sepanjang masa. Siapa sangka keelokan remaja belia usia 16 tahun duduk di bangku SMA berkebaya biru juara dua kontes pemilihan ratu kebaya di Kota Bandung, di tahun 1970 muncul di kelopak mata sineas legendaris Usmar Ismail untuk lalu dibentuk menjadi permata baru perfilman Indonesia selama lebih dari dua dekade. Lenny masih belum lupa bahwa sanggul, kebaya, kain, sampai selop yang dia pakai ketika memenangkan kontes itu adalah pinjaman semua.

Dan siapa pula yang menyangka wanita manis kelahiran Ciateul itu setelah terpuruk dalam bisnis gagal dalam rumah tangga masih berkesempatan “dipetik” ulang oleh pendekar hak-hak azasi manusia dan tokoh politik nasional dari Kosgoro Bambang W. Soeharto.

Itulah Lenny Marlina artis film terkemuka si “centil” dari Jalan Ciateul Bandung yang pada 19 Februari 2004 lalu meluncurkan otobiografinya berjudul “Si Lenny dari Ciateul”. Kendati tak sekalipun pernah memenangkan Piala Citra namun beberapa penghargaan tertinggi dunia seni peran tingkat nasional hingga Asia Pasifik pernah dia terima selama berkarir.

Semenjak disunting Bambang W Soeharto citra diri Lenny Marlina menjadi identik dengan ketokohan suami. Figur keduanya tampak ideal dan romantis setiap kali tampil di hadapan umum. Demikian pula keakraban diantara anak-anak bawaan masing-masing, berikut mantu dan cucu-cucu. Sebuah kombinasi yang unik dua selebritis terkenal dari bidang berbeda bergabung jadi satu rumahtangga, satu artis film kesohor satu lagi politisi ternama. Dalam keluarga barunya anak Ciateul ini lebih suka memilih menjadi ibu rumah tangga. Posisi “orang rumahan” itulah yang dia manfaatkan selama dua tahun menyusun otobiografi. ► ht

Nama :Lenny Marlina
Lahir:Jalan Ciateul, Bandung, 19 Februari 1954
Suami:Bambang W Soeharto

Anak :Dua orang putri dari suami pertama Gatot Teguh Arifianto, dan dua orang putra dari Bambang W Soeharto

Orangtua:Ayah Tatang Hasan Suharna, dan ibu Yety Suryatin

Judul Buku Otobiografi:
“Si Lenny dari Ciateul, Otobiografi Lenny Marlina”, tebal 500 halaman, ditulis oleh novelis Titi Said, pengamat film Salim Said, serta Lies Said, Muthiah Alhasany, Titien Sukmono, dan Yuni.

Film Pertama:
“Ananda” sebagai pemeran utama wanita, disutradarai oleh Usmar Ismail, produksi tahun 1970

Nominasi Piala Citra:
1. Film “Jangan Ambil Nyawaku”, FFI 1982
2. Film “Kembang Kertas”, FFI 1985

Penghargaan:
1. Juara dua Pemilihan Ratu Kebaya Kota Bandung, tahun 1970
2. ''The Best Actress PWI”, untuk film “Biarlah Aku Pergi”, tahun 1971
3. ''Aktris Terbaik PWI'', untuk dalam Di Mana Kau Ibu, tahun 1973
4. ''Aktris Harapan I PWI'', untuk film Ranjang Pengantin, tahun 1974
5. ''Pemeran Wanita dengan Penghargaan'', untuk Rio Anakku, FFI tahun 1974.

Film yang dibintangi:
Total hampir mencapai 100 judul film, terakhir adalah sinetron televisi, “Kau Selalu di Hatiku”, disiarkan tahun 1997
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)