Melani Setiawan






Oase Hati

Dalam rutinitas dunia kedokteran, ada suara lain yang terus memanggil-manggil. Rupanya suara itu berasal dari dunia seni.

Sebuah lembaran buku yang terbuka, sebuah catatan terbaca.


”buat Ibu..

Terima kasih atas kesabaran dan diskusi yang asyik dan bermakna. Perjalanan menuju.. seni rupa..di pagi hari..di malpensa-Italia.

Entang 2010”

Tulisan dengan ilustrasi gambar kaki dan tanda tangan Entang Wiharso ini bersanding dengan kalimat-kalimat yang dibubuhkan seniman Agus Suwage untuk Dr. Melani Witarsa Setiawan, MSc. Buku berjudul Pleasures of Chaos, Inside New Indonesia Art ini baru saja diluncurkan di Milan, Italia, bersamaan dengan pameran 10 seniman Indonesia. Buku ditulis oleh Jim Supangkat dan diproduseri oleh Primo Giovanni Marella, seorang pelopor seni sekaligus pemilik galeri di Milan. Sementara pada halaman belakang buku tertera kata: Tanpa Melani, buku ini tidak pernah tercipta – menunjukkan betapa perempuan 65 tahun ini berperan nyata.

Melani baru saja pulang dari perjalanan selama 13 hari bersama Agus Suwage, Entang Wiharso, dan FX Harsono dari Milan. Ia menemani para seniman saat berpameran, sekaligus menikmati tamasya seni rupa di wilayah Eropa. Perjalanan seperti ini sudah kesekian kalinya terjadi buat Melani. Berkali-kali ia bahkan menjadi ”ketua rombongan” seniman tatkala mengantar para seniman ke berbagai tempat di luar negeri.

Agus Suwage, membandingkan Melani seperti suporter kesenian sekaligus penggembira seni sejati. ”Dia bukan saja mendukung seniman/kesenian Indonesia tapi sekaligus merayakan keberadaannya di antara seniman dan peristiwa seni. Buat saya, ini cukup fenomenal. Aneh bin ajaib bila dilihat dari tekad dan konsistensinya. Tidak ada matinya!.” Dukungan yang diberikan Melani, ternyata bukan kritik seni – seperti yang banyak dilakukan oleh banyak pengamat atau orang yang sudah la,a terjun ke dunia seni. Sebaliknya, ia justru tak pernah mengungkit-ungkit model kreativitas para seniman yang juga kawan baiknya itu. ”Bentuk dukungan dia justru bukan ke arah yang bersifat teknis atau kesenian an sich. Tapi mengenalkan ke jaringan baru sampai tetek bengek soal pembuatan visa, makan, jadwal pertemuan. Ia malah jarang membicarakan seni,” lanjut Agus.

”Saya senang-senang saja di seni. Tak terlalu banyak berpikir apa-apa. Mungkin sekadar mendapat suasana baru. Kalau di dunia kedokteran segala sesuatu sangat formal, segala sesuatu ada aturan, ada rambu tegas. Seni kan santai,” jawabnya ringan. Selama ini kegiatan Melani dalam dunia seni dimulai dengan memotret untuk dokumentasi pribadi segala kegiatan seni rupa di berbagai aktivitas seni rupa. Seminggu kemudian, ia pasti akan mengirimkan foto-foto tersebut kepada sosok-sosok yang ada. Foto yang dikirimkan tersebut sudah pasti berada dalam kumpulan dokumentasi seni yang dimilikinya sejak dua puluh tahun lalu. Seorang sekretaris dihadirkan demi mengelola kesenangannya.

Meski demikian, peran Melani tidaklah kecil. Lihat saja bagaimana Agus Suwage pernah menampilkan (salah satunya) patung Melani dalam karya Passion Play pada pameran Still Crazy After All These Years (2009).

Memang menarik untuk mempertanyakan kehadiran Melani. Ia bukanlah kurator atau kolektor, kecuali pecinta seni biasa, yang tak punya ambisi apa-apa. Tak punya galeri. Mengaku tak punya karya seni yang sedang ”dibicarakan” wacana besar. Tapi ia sangat populer di kalangan seni rupa Indonesia. Padahal ia adalah ahli Ultrasonografi senior, pernah menjabat sebagai Lektor Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanegara, Kepala Unit USG RS Sumber Waras selama 12 tahun, dan kini masih aktif di RS Pluit, Jakarta. Begitulah ia. Bila seni adalah bagian dari pengalaman jiwanya, pendidikan formal dan lingkungan keluarganya berasal dari dunia kedokteran yang sangat bersandar pada rasionalitas dan aturan rambu yang ketat.

Melani tumbuh besar sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Ayah ibunya dokter gigi. “Ayah pingin saya jadi dokter,” katanya, menyebut nama sang ayah, Endang Witarsa, juga dikenal sebagai mantan pemain dan pelatih bola senior PSSI (1951-2008) yang sangat disegani karena kemampuan kepemimpinan yang tegas dan sangat disiplin sehingga berhasil membawa tim sepakbola Indonesia berjaya. “Kita keluarga serius, tidak banyak humor. Fokus pada pendidikan.”

Tak jauh dari suasana seperti itu Melani dididik ayahnya agar menjadi perempuan berdaya. “Kami tidak pernah didukung untuk mematuhi persyaratan menjadi wanita, kecuali hanya belajar dan sekolah. Mungkin karena waktu itu ibu saya sudah menjadi dokter gigi,” ungkap Melani. Yang dimaksud dengan persyaratan menjadi wanita di sini adalah kepandaian memasak atau menjahit sebagaimana dilakukan oleh perempuan pada tahun 1950an saat Melani belia. “Dari Ibu, saya mengenal tentang sifat pekerja keras. Kini, saya menyadari, ternyata beliau juga mengajarkan gaya hidup sehat pada kami.”

Padahal kedokteran bukan hal yang diinginkan sebelumnya. “Saya ingin menjadi arsitek!,” kata Melani yang akhirnya mengambil kedokteran karena pengaruh tes psikologi dari ayah seorang teman yang mengatakan bahwa ia berbakat di jurusan kedokteran, kedokteran gigi, serta ekonomi. Ia merasa beruntung karena pada masa itu ia diterima di jurusan kedokteran Universitas Indonesia – di mana pada masa itu ada pembatasan untuk mahasiswa keturunan. “Sepanjang dua tahun kuliah saya malas, berharap tidak lulus, dan saya dikeluarkan. Eh, ternyata lulus lagi, lulus lagi. Akhirnya saya seperti tak punya pilihan sehingga melanjutkan sampai menjadi dokter,” katanya. Sejak saat itu, ia menyerah pada jalan takdir. Ia melanjutkan pendidikan spesialis USG, S2, dan S3-nya di Medical Faculty, University of Zagreb, Yugoslavia dan Postgraduate program for DSc, Univeristy of Rijeka, Kroasia – yang akhirnya tidak diselesaikan karena terburu pecah perang Bosnia.

Hampir setiap enam bulan sekali, ia melakukan up grading pengetahuan kedokteran dengan mengikuti pendidikan di Singapura, Malaysia, Jepang, Rotterdam, Amerika, dan Hongkong. Makalah internasional dalam bidang ultrasonografi dan menjadi editor jurnal-jurnal kesehatan dunia sudah pernah dilakoninya sepanjang dekade 1990-an. Setelah itu, ia sempat menjadi Councillor untuk Asian Federation of Societies for Ultrasound in Medicine and Biology (AFSUMB).

Apakah dia bahagia? “Seandainya ada nilai 5-6, maka saya bisa katakan hidup saya di atas enam terus. Saya beruntung. Saya bahagia,” ujarnya tersenyum. Hal yang membahagiakan diantaranya adalah kesibukan yang superpadat dan suami yang mendorong kariernya setinggi mungkin. “Saya mencintai dia karena sangat lelaki, tegas, dan disiplin. Untuk bergaul saya suka orang yang suka tertawa-tawa, tapi kalau teman hidup tidak. Saya orangnya serius. Suami saya juga yang membiayai seluruh pendidikan saya selama ini. Setelah saya pikir-pikir, dengan pekerjaan saya ini, tak mungkin gaji saya impas untuk membayarnya. Ha ha ha…, “ia tertawa, memuji Fanny Setiawan, mantan mahasiswa fakultas kedokteran, yang juga atlit judo nasional tahun 1960-an.

Kebahagiaan ini lengkap dengan hadirnya 3 perempuan buah hatinya. Dua kembar, salah satunya adalah sosialita Ita Handoko. “Anak-anak saya baik sekali. Sejak bayi mereka tidak pernah menyusahkan, sudah biasa diatur. Sampai sekarang hubungan kami sangat akrab,” ia menegaskan. Di samping mejanya, masih tergeletak dokumentasi kartupos berupa foto keluarganya dalam pose akrab, yang didokumentasikan rapi sejak tahun 1970-an hingga kini. Kartupos itu dikirimkan setiap natal kepada seluruh kerabat dan sahabat keluarga yang tersebar di berbagi penjuru.

Sementara itu, kecintaannya pada seni baru berlangsung pada akhir tahun 1970-an. Awal mulanya untuk mendekorasi rumah. Ia menuju Pasar Seni Ancol. Untuk fine art, ia dikenalkan oleh pamannya. Koleksi pertamanya adalah karya Idran Yusuf. Katanya,” Karena kami sama-sama dokter di RS yang sama, Oom, adik Ibu, sering mengajak saya ke toko antic di jalan Surabaya dan menghadiri pameran lukisan di Balai Budaya.” Perkenalan dan foto pertama dengan seniman terjadi tahun 1981 ketika berkenalan dengan Sudjono D.S.

Sejak itu, kegiatan rutinnya adalah mengunjungi segala pameran lukisan, memotret dirinya bersama seniman tersebut, serta pengunjung yang hadir. Ia juga mulai berkeliling ke rumah-rumah seniman, berkenalan dengan setiap orang yang terjun di bidang seni. Ia mengantar seniman ke berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri, memberi kesempatan seniman untuk tinggal di rumahnya ketika sedang tak punya tempat menginap, memberi informasi terbaru, dan kini ia selalu mengirimkan berdus-dus informasi dan katalog pameran untuk dikirim ke institusi yang sesuai. Ia juga mengkliping banyak kegiatan seni dan mengirimkan kliping itu pada orang-orang yang namanya disebut dalam artikel tersebut.

Berbagai “pekerjaan” tersebut dilakukan dengan tulus. Ia tak pernah tergiur untuk memanfaatkan jaringan seni yang sudah ia bangun selama ini. Apalagi sekarang bisnis seni tengah mengalami puncak kegemilangan. “Saya pernah terombang-ambing, dalam suatu masa, ketika teman-teman mengajak berbisnis dalam bidang seni. Saat itu semuanya sudah serius. Tapi saya seperti disadarkan, apa sih yang saya cari dalam hidup ini? saya rasa pilihan saya benar. Persahabatan itu nilainya jauh lebih tinggi dari materi. Kedekatan ini sudah cukup buat saya,” kata Melani yang kini sedang menyiapkan buku mengenai dunia seni rupa Indonesia. “Kadang saya dianggap terlalu berpihak pada seniman.”

“Kadang saya heran, dari mana asal waktu saya untuk melakukan itu semua ya?,” ia kembali terheran-heran. Padahal waktunya sangat padat sepanjang hari. Tapi ia selalu berusaha menghadiri pameran dan berdiskusi dengan para seniman. Hubungannya dengan para seniman sangat dekat. “Saya juga bukan kolektor. Karena bila saya seorang kolektor, maka saya pasti akan mengejar sesuatu yang terbaik. Seluruh koleksi saya memang karena saya senang atau jodoh. Kemampuan (materi) saya ada keterbatasan. Saya pasti akan sangat kecewa bila saya memiliki target yang tidak bisa dipenuhi. Karena saya sangat rasional, cukup sekian saja. Biasanya saya mengoleksi karena ada hubungan saya dengan senimannya,” ujar Melani yang pada tahun 1984 sudah tertarik dengan karya Dede Eri Supria dan I Nyoman Medja. “Sayang tak terbeli”

“Bersenang-senang saja di dunia seni,” ia akhirnya menyimpulkan sendiri. “Kalau dibilang, pendidikan saya sampai “puncak”, tapi dalam seni ternyata saya tak punya obsesi atau juga ambisi. Tak punya target juga. Kalau saya pikir lucu juga ya, apa yang sebenarnya saya cari? Tapi lebih lucu lagi suami saya pun mendukung apa-apa yang bahkan saya pun tak tahu apa maksud kedekatan dalam dunia seni. Saya hanya punya hati. Passion,” katanya merendah. Ibu yang hangat ini tampaknya lupa bahwa kasih sayang yang ia pancarkan dengan tulus untuk para seniman-lah yang membuat geliat dunia seni rupa yang belum ada infrastrukturnya di Indonesia ini terus menggeliat. (Rustika Herlambang)
sumber http://rustikaherlambang.wordpress.com
Pengarah Gaya: Dany David. Foto: Anton Jhonsen. Tatarias wajah &rambut: Lisa Octavia