Profil | Hj. Sri Surya Widati ( Bu Idham )


Hj. Sri Surya Widati ( Bu Ida )
BAKAL CALON BUPATI BANTUL 2010-2015

Nama : Hj. Sri Surya Widati ( Ida Idham Samawi )

Tempat/Tgl lahir : Jakarta, 26 Maret 1951

Pengalaman di berbagai BIdang, Antara lain :
Bidang Kesehatan
Tahun 2000-2010 Dilantik menjadi ketua Yayasan Kanker Indonesia ( YKI ) cabang Bantul
Tahun 2003-2013 Sebagai Ketua PMI Cabang Bantul
Tahun 2009-2013 Sebagai Dean kehormatan PPTI ( Perkumpulan Pemberantasan Turbekulosis Indonesia ) Kab. Bantul.
Bidang Kesejahteraan Keluarga

Tahun 2000-2005 Penasehat Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Bantul.
Tahun 2006-2009 Penasehat GOW ( Gabungan Organisasi Wanita ).
Tahun 2008-2013 Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul
Tahun 2008-2012 Ketua umum BPC Asosiasi kelompok UPPKS (AKU) Kabupaten Bantul.
Tahun 2009-Sekarang sebagai Ketua POKJA POSDAYA ( Pos Pemberdayaan Keluarga ).
Tahun2 009-Sekarang sebagai Ketua PJOK Keterpaduan BKB-POSYANDU-PADU.
Tahun 2008-Sekarang Ketua forum penanganan korban kekerasan terhadap perempuan dan anak (PKKPA).
Bidang Pendidikan

Tahun 2009-sekarang Pembina PAUD ( Pendidikan Anak Usia Dini ) Kabupaten Bantul .
Tahun 2009-Sekarang Ketua PJOK ADITUKA ( Asuhan Dini Tumbuh Kembang Anak).
Bidang Perindustrian dan Perdagangan
Tahun 2007-2012 Ketua DEPKRANAS Kabupaten Bantul.
Tahun 2007-2012 Penasihat IWAPI ( Ikatan Wanita Pengusaha Indoensia) Kabupaten Bantul.
Tahun 2008-2011 Ketua DPD APPSI ( Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia) Kabupaten Bantul.
Bidang Pers
Tahun 1994-2011 Ketua IKWI ( Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia ) Cabang Yogyakarta.
Tahun 1996-April 2009 Dewan Komisaris Harian Kedaulatan Rakyat.
Sekilas Tentang Ibu Ida ...

Di balik keberhasilan seorang lelaki, tidak lepas dari dukungan seorang wanita di sampingnya. Demikian halnya bagi Bupati Bantul H Idham Samawi. Sebagai isteri dan ibu bagi ketiga anaknya, Sri Surya Widati atau yang akrab disapa Ny Ida Idham Samawi , telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Tidak sedikit, ia dimintai pertimbangan mengenai saran dan masukan oleh suaminya, dalam memimpin Kabupaten Bantul.

“Dalam segala hal, saya harus mensuport suami,” ungkap wanita yang lebih akrab disapa dengan Ny Ida Idham Samawi. Pada awalnya, ia memang tidak setuju suaminya mencalonkan diri sebagai bupati. “Waktu bapak mau mencalonkan diri, sebenarnya saya menyarankan tidak usah saja. Kita ini sudah lama berkecimpung di dunia swasta mbok ndak usah saja. Namun saat itu mengingat desakan banyak masyarakat akhirnya saya mendukung.” Kenang Bu Sri Surya Widati.

Mengingat banyaknya dukungan masyarakat ini, sebisa mungkin wanita yang pernah menjadi Dewan Komisaris Harian Kedaulatan Rakyat ini harus mensupport suaminya agar dalam tugas sesuai dengan yang diinginkan masyarakat Bantul.
Di balik kelembutannya, Ida memang dikenal memiliki jiwa yang keras dan disiplin tinggi. Terbukti dengan banyaknya tamu yang ingin menemuinya untuk memuluskan jalan kemudahan, namun sebagai isteri bupati, Sri dengan tegas menolak segala sesuatu yang bukan kewenangannya.

“Kalau menyangkut kewenangan saya, pasti akan diterima dan diselesaikan dengan baik. Tidak peduli pejabat atau orang kecil, siapa yang lebih dulu datang, itu yang ditemui dulu,” tegasnya.
Wanita kelahiran Jakarta, 26 Maret 1951 yang memiliki darah asli Yogyakarta dari pasangan suami istri Almarhum Mayor Budiman Adiyono dengan Mien Sariatun ini memang dibesarkan dalam lingkungan keluarga militer (AURI) yang penuh disiplin.

Selain itu, Ida juga dibesarkan dalam lingkungan keluarga besar dengan tujuh bersaudara, terdiri dari empat laki-laki dan tiga perempuan, sehingga kondisi itu yang menempanya menjadi sosok wanita yang bisa mendampingi Bupati Bantul Idham Samawi sampai dua periode. Di bawah kepemimpinan Idham Samawi, masyarakat Bantul menjadi lebih maju dalam segala aspek kehidupan.

“Dalam kehidupan sehari-hari dari kecil sampai sekarang saya tidak pernah dimarahi orang tua. Karena saya selalu ingat nasehat guru saya yaitu belajar yang rajin, hormat pada orang tua dan mencintai Negara RI. Sehingga saya tidak pernah mengecewakan orang tua saya yang memang orang tua saya selalu mengerti anak-anaknya dan gampang tersentuh. Selain itu orang tuapun selalu menanamkan ke diri saya bahwa hidup harus bermanfaat,” paparnya.
Wanita yang memiliki hobi membaca dan berenang ini menikah dengan Idham Samawi pada 2 Maret 1974. Pernikahannya dengan Idham yang merupakan teman SMA Negeri 6 Yogyakarta ini dikaruniai 3 anak, Intan Titisari, Muhamad Wismon Samawi SE, MIB, dan Adi Karang, SPsi.
Posdaya menjawab tantangan

Sebagai Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantul Ida Idham Samawi mengakui kegiatan Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) mampu menghadapi tantangan masyarakat dunia ini. Karena, kegiatan Posdaya mampu menjawab tantangan itu. Seperti, masalah kependudukan, kualitas sumber daya manusia (SDM) dan kesejahteraan keluarga.

“Terhadap masalah kependudukan, kegiatan Posdaya juga mencakup pengendalian penduduk lewat kegiatan Posyandu; untuk SDM lewat kegiatan pendidikan anak usia dini (PAUD); sedang masalah kesejahteraan keluarga dengan kegiatan pemberdayaan ekonomi dilakukan kader-kader Posdaya. Untuk Bantul, Posdaya sudah berkembang sampai ke dusun-dusun muncul kewirausahaan dalam bentuk usaha keluarga seperti dagang, jualan jamu gendong, makanan, warungan dan lain-lain,” kata Hajjah Ida Idham Samawi yang juga dipercaya sebagai Pembina Posdaya Kabupaten Bantul.
Posdaya ini merupakan suatu alternatif terbaik mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Karena Posdaya yang merupakan forum dari berbagai aspek tersebut pelaksanaanya merupakan pemberdayaan keluarga yang sosial ekonominya lemah dengan dibekali keahlian berwirausaha dan lain-lain agar menjadi keluarga mandiri. Mereka juga mengadakan pertemuan rutin setiap bulannya untuk melakukan berbagai kegiatan antara lain simpan pinjam.

Kegiatan Posdaya khususnya Kabupaten Bantul dianggarkan lewat anggaran APBD Kabupaten Bantul. “Tujuan dari Posdaya adalah penguatan fungsi keluarga secara terarah sehingga mampu mandiri dan mengangkat keluarga miskin menjadi lebih sejahtera sehingga lebih eksis di masyarakat pada umumnya,” tegas Ida yang sejak muda bahkan ketika menjadi Ketua Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Cabang Yogyakarta selalu mengajak seluruh pengurus dan anggota IKWI untuk selalu meningkatkan kepedulian terhadap kaum duafa.
Posdaya Bantul bergerak dalam berbagai kegiatan antara lain, Posdaya Berbasis Masjid dan Posdaya Berbasis Sekolah dengan tujuan peningkatan komitmen KB kesehatan, Pendidikan dan Pemberdayaan Wirausaha,sehingga mampu memelihara lingkungan secara terpadu.

“Ke depan kami berharap Posdaya bisa dikembangkan sebagai wadah pelayanan keluarga secara terpadu utamanya pelayanan kesehatan, pendidikan, wirausaha dan pengembangan lingkungan yang memudahkan keluarga berkembang secara mandiri. Tim PKK Kabupaten Bantul senantiasa berupaya untuk memberikan pendampingan,” ungkapnya.
Khusus PAUD yang merupakan kegiatan Posdaya bukan pendidikan akademik namun memacu kecerdasan anak, di Kabupaten Bantul sudah sangat berkembang. “Di masyarakat di setiap dusun pasti terdapat PAUD. Peningkatan mutu sumber daya manusia di Bantul ini sangat erat kaitannya dengan PAUD. Perluasan Akses Layanan Paud dan Paud Berbasis Keluarga,” ujarnya.

Di awali dari tingkat keterlayanan anak usia dini oleh lembaga PAUD yang di Kabupaten Bantul jumlah 67.794, anak terlayani hanya 31.782 anak (46,88 %). Padahal indikator keberhasilan Pos PAUD adalah apabila lebih dari 75 % anak mengikuti Posyandu ikut serta dalam program Pos PAUD.
“Oleh karena itu mengingat pentingnya PAUD ini, kami terus mensuport kegiatan PAUD dengan memberikan bantuan Rp 500 ribu kepada setiap PAUD yang ada. Sebenarnya terhadap kegiatan PAUD ini kita tinggal memberi motivasi, masyarakat sudah antusias bila mereka sudah memiliki tempat kita tinggal memberikan sedikit dana stimulan untuk pelaksanaan. Pengajar kita ambilkan masyarakat sekitar yang sudah kita bekali sebagai pendidik PAUD sedang dana kesepakatan orang tua murid,” jelasnya.

Lebih jauh dijelaskan, anak perlu diperhatikan lebih serius pada usia 0-5 tahun karena masa itu merupakan masa emas perkembangan anak. Oleh karena itu pada masa itu peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengawasi tumbuh dan berkembangnya otak anak. Pada masa ini pula anak sangat memerlukan gizi yang cukup dan seimbang agar perkembangannya tidak terhambat.

Yang perlu diketahui pula, lanjutnya, pada saat itu otak anak berkembang sangat cepat sehingga informasi apapun akan diserap tanpa melihat baik buruk. Di sinilah peran orang tua dan pendidik PAUD dibutuhkan untuk mengarahkan anak ke arah yang baik dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang. Untuk itu dalam memberikan pendampingan PAUD perlu didukung cara yang kreatif dalam menciptakan Alat Permainan Edukatif (APE) serta agar memberdayakan masyarakat untuk pendukung keberhasilan dalam membimbing PAUD.
Perhatikan lansia

Sebagai kader Posdaya, Sri Surya Widati ini juga menggalakkan Posyandu Lansia. Tujuan pokoknya adalah meningkatkan kesehatan para lansia untuk memberi kesempatan hidup lebih lama dan lebih bahagia serta ceria. Hal tersebut sebagai bagian dari penghormatan kita kepada orang yang telah melahirkan dan berjasa pada generasi muda.

Manusia lansia merupakan kurun usia yang barang tentu sudah kurang atau bahkan tidak berproduksi lagi. Namun sebagai generasi yang telah banyak berhutang jasa kita harus menghormati dan menjunjung tinggi jasa-jasanya,” papar Ny Ida Idham Samawi yang belakangan ini disebut-sebut sebagai calon kuat menjadi Bupati Kabupaten Bantul, menggantikan Sang Suami yang sudah memangku jabatan Bupati Bantul dua periode.
Kegiatan posyandu lansia bukan pelayanan yang bersifat berat karena memang keadaan fisik yang menurun. Sehingga kegiatan dititikberatkan pada pelayanan gizi, olah raga ringan dan penimbangan.

Melalui kegiatan ini diharapkan keadaan tubuh yang sudah semakin renta tetap terjaga staminanya sehingga tidak terkenan penyakit yang bermacam-macam dan tetap ceria di usia tua. Dengan memperhatikan ketiga hal tersebut maka makanan yang disediakan sedikit namun tetap memenuhi kebutuhan gizi, olah raga ringan untuk mendorong agar tubuh tetap bergerak sehingga organ di dalamnya tetap berfungsi baik dan penimbangan untuk memantau perkembangan berat yang stabil.

Anak ke empat dari tujuh bersaudara yang memiliki nama lengkap Sri Suryawidati Andarweni Kawuryan Budi Respati ini, juga memberi perhatian besar kepada penyandang masalah sosial. Dalam hal ini bukan hanya perhatian kepada kaum difabel-tuna grahita (melalui pembentukan Forum Difabel ke seluruh desa dan dusun di Bantul), tetapi juga perhatian terhadap warga miskin, pengemis, pemulung, pengamen, gelandangan, PSK (penjaja seks komersial), anak jalanan dan lain-lain.

“Untuk di Bantul sendiri penanganan terhadap penyandang masalah sosial yang dilakukan lewat jalur PKK banyak ragam kegiatannya. Seperti terhadap warga miskin ini diberikan pelatihan seperti membuat makanan, ataupun kerajinan diharapkan mereka bisa mandiri keluar dari kemiskinan,” ujarnya berharap.(gemari.or.id)