PRIJANTO, WAGUB DKI MANTAN JENDERAL YANG HUMORIS


Di balik kebersahajaan seorang Prijanto, purnawirawan TNI ini juga merupakan sosok yang sangat religius dalam kehidupannya sehari-hari. Pria kelahiran Ngawi Jawa Timur, 26 Mei 1961 ini sejak kecil hingga kini masih rajin melakukan ritual puasa sunnah Senin-Kamis serta rutin melaksanakan ibadah sholat malam (tahadjud).

Prijanto merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara lahir dari pasangan Sumantri Wignjowijandjono dan Sumirah. Sang ayah merupakan seorang guru agama Islam di Ngawi serta merupakan pegawai kantor Pendidikan Agama di Karesidenan Madiun. Prijanto kecil dikenal sebagai anak yang pandai bergaul dan memiliki banyak teman, namun untuk menjaga dari hal-hal negatif orangtuanya terus membekali Prijanto dengan ilmu agama.

Sebagai seorang guru agama, ayahanda Prijanto bahkan turun langsung menggembleng anak-anaknya dengan selalu menggelar pengajian di rumah."Kadang-kadang pengajiannya dilakukan di rumah, kadang di rumah tetangga. Yah, hitung-hitung sambil membangun silaturahmi dengan lingkungan," kenang Prijanto. Dalam pengajian itu, Prijanto kecil juga mengajak teman-teman bermainnya untuk bersama-sama menimba ilmu agama dari sang guru yang notabene adalah ayahnya sendiri. "Sejak kecil ayah saya selalu menanamkan bahwa dalam hidup ini bekal paling penting adalah agama. Ini mutlak dan perlu. Tidak bisa ditawar-tawar," jelas pria yang pensiun dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal TNI itu.

Hingga saat ini, lanjut Prijanto, dirinya tetap berusaha istiqomah dan tetap berusaha konsisten mengikuti aturan agama. "Ketika ada godaan untuk sedikit menyimpang, saya ingat Firman Allah dalam surat Yasin ayat 12. Dalam surat itu kita diingatkan bahwa setelah kita dimatikan Allah SWT, maka nanti kita akan dihidupkan dan diminta pertanggungjawabannya atas perilaku ketika kita masih di dunia. Di sana kita tidak akan mungkin menutup-nutupi segala sesuatu karena Allah pasti melihat dan mencatat segala perilaku kita semasa hidup. Inilah yang saya tanamkan juga kepada anak-anak serta prajurit saya di lapangan," terang Prijanto.

Beberapa teman satu SMA menuturkan, sosok Prijanto merupakan pribadi yang sederhana, namun juga sangat dermawan. "Pandai bergaul dan tidak pilih-pilih teman. Dia bergaul dengan semua kalangan," ujar Dr Ir Kardono, sahabat dekat Prijanto semasa di bangku SMA Negeri I Ngawi, Jawa Timur.

Dikisahkannya, Prijanto di mata para sahabat adalah sosok yang sempurna. "Dia agamis, bisa bergaul pintar, jujur, dan polos. Kita dulu lima sekawan seringkali jalan-jalan. Tapi dulu kalau kita jalan-jalan selalu naik sepeda, bahkan dari Ngawi sampai ke Surabaya kita pernah tempuh bareng," kenang Kardono yang kini bekerja di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Soal nilai pelajaran di sekolah, Prijanto cukup pintar dan berprestasi walaupun bukan menjadi peringkat pertama. Prijanto muda, menurut sahabat karibnya itu, dikenal sangat menguasai mata pelajaran ilmu ukur ruang. "Menjelang kelulusan, Prijanto sempat bercerita dirinya ingin masuk sekolah militer, namun orangtuanya berharap agar dirinya tidak jadi tentara. Karena itu ia masuk kampus IKIP," cerita Kardono.

Walau demikian, Prijanto diam-diam tetap berusaha untuk bisa kuliah di Akademi Militer. Menurutnya, menjadi seorang prajurit merupakan sebuah kebanggaan setiap anak muda saat itu. "Apalagi saya lihat kakak-¬kakak saya banyak yang jadi tentara, ada di Angkatan Darat dan Angkatan Laut," beber mantan Asisten Teritorial Mabes TNI Angkatan Darat itu.

Namun demi menghormati harapan sang ayah yang ingin tidak semua anaknya 'lari' ke militer, maka selepas SMA, Prijanto melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang Fakultas Keguruan Eksakta pada tahun 1970. Belum tuntas menyelesaikan pendidikan di kampus calon guru itu, angan-angan Prijanto untuk menjadi seorang tentara justru makin menggebu. Akhirnya tahun 1972 Prijanto pindah ke AKABRI dan selesai pada tahun 1975.

Biasa hidup bebas dalam lingkungan perkuliahan di IKIP, pertama kali menjalani pendidikan kemiliteran Prijanto mengaku kaget. Ketatnya aturan dan disiplin yang tinggi menjadi alasan kekagetannya. "Untung sejak kecil orangtua telah menanamkan kedisiplinan sehingga saya cepat bisa beradaptasi," imbuh suami Widyastuti itu.

Di AKABRI, lanjut Prijanto, dirinya digembleng bukan hanya dari sisi fisik, namun juga mental, intelektual, dan penanaman jiwa kepemimpinan. "Begitu selesai pendidikan saya ditempatkan sebagai Komandan Pleton dengan membawahi 30 prajurit. Disini saya diuji bagaimana menjadi seorang pemimpin, bagaimana mengendalikan pasukan dan lain-lain. Disini awal saya belajar menjadi seorang pemimpin," ujar Prijanto mengisahkan awal perjalanan kariernya.

Sebagai seorang pemimpin dan komandan, Prijanto memang sangat disukai anak buahnya. Beberapa bekas anak buahnya mengakui hal itu. Salah satunya adalah Letkol Arhanud Nisan Setiadi yang pemah menjadi muridnya di Akademi Militer (Akmil) Magelang.

Menurut Nisan, Prijanto merupakan seorang guru yang sangat cerewet. "Tapi cerewetnya itu untuk menjadikan para anak didiknya menjadi orang-orang yang sukses dan berhasil. Beliau sangat taat dan patuh pada aturan. Beliau merupakan pengasuh yang sangat saya idolakan," aku Nisan yang kini menjabat sebagai Komandan Kodim Jakarta Utara itu.

Ditambahkannya, Prijanto juga merupakan tipe pemimpin yang teliti dan tegas. Dia ingin semuanya sempurna. "Tapi ketegasan itu bukan berarti dia suka sewenang-wenang pada anak buahnya atau muridnya. Kalau kita langgar aturan, kita tidak dipukul atau ditendang. Beliau tidak pernah menghukum dengan kekerasan. Hukuman yang diberikan cenderung lebih mendidik seperti push up atau lari," beber Nisan.

Walaupun dikatakan tegas dan cerewet, sosok Prijanto ternyata juga sangat humoris. "Dia itu bisa bermain sulap Iho. Dikala waktu-waktu senggang, beliau membaur dengan anak buah dan kita suka dihibur dengan banyolan dan sulap-sulapnya," ungkapnya.

Prijanto, bukan tipe pemimpin yang antikritik. "Bahkan kadang sebelum dikritik, dia sudah menyadari kesalahannya dan mengakuinya. Dia tidak otoriter dan bukan tipe pemimpin yang suka memaksakan kehendak," imbuhnya. Pengakuan yang sama juga disampaikan Kopral Kepala Ruswanto yang ikut lebih dari 12 tahun bersama Prijanto. Menurutnya, sosok sang komandan sangat sederhana, humoris, memiliki ide-ide humor untuk menghidupkan suasana. "Selama ikut beliau, tidak pernah sekalipun saya ditempeleng (dipukul). Sanksi yang diberikan atas sebuah kesalahan biasanya lebih bersifat mendidik, bukan hukuman fisik," tandas Ruswanto.

Menanggapi hal itu, Prijanto mengaku hukuman atau sanksi atas kesalahan yang dilakukan anak buah bukan berarti menjadi justifikasi untuk melakukan hukuman fisik seperti memukul. "Hukuman itu diberikan untuk mendidik agar anak buah menjadi lebih baik. Saya selalu berikan hukuman kepada anak buah dengan cara-cara yang lebih mendidik, bukan dengan main tempeleng," akunya.

Namun, lanjut Prijanto, dirinya juga tidak mentolerir kesalahan anak buah begitu saja. Dirinya tetap harus memberikan sanksi sebagai bentuk pendidikan kedisiplinan. "Menanamkan kedisplinan dan taat pada aturan bukan berarti harus keras secara fisik. Namun bagaimana memberikan kesadaran dan pemahanan kepada anak buah tentang mengapa aturan itu dibuat," jelasnya.

Mantan Kasdam Jaya itu juga berpandangan disiplin yang ia terapkan tidak serta merta membuatnya jadi otoriter. "Di rumah, saya selalu menanamkan suasana yang akrab dan demokratis dengan istri dan anak- anak. Saya jadikan anak-anak sebagai teman sharing (tukar pendapat)," katanya.

Buktinya, kedua anaknya tak ada yang dipaksakan masuk ketentaraan mengikuti jejak sang ayah. "Anak saya yang pertama laki-laki bekerja di perusahaan swasta, dan yang kedua perempuan masih kuliah S2 di Malaysia," ujarnya.

Dalam hal jodoh untuk sang anak, Prijanto juga tak pernah memaksakan kehendak. Menurutnya, anak-anaknya sudah cukup dewasa untuk menentukan siapa pendamping hidupnya nanti. Diungkapkannya, Menantu dari anak pertama merupakan wanita muslim berdarah campuran Tionghoa dan Ambon. "Sedangkan pacar anak saya kedua, orang Palembang ," kata peraih penghargaan Bintang Kartika Eka Paksi Nararya itu.

Kecil Dipanggil 'Kantong'

Yang unik terhadap sosok Prijanto saat kecil adalah nama panggilannya. Alumni Lemhanas tahun 2006 ini memiliki panggilan akrab 'Kantong'. "Itu panggilan saya waktu anak-anak. Dipanggil Kantong karena saya suka pakai celana monyet yang ada kantong besar di depan," kisahnya.

Panggilan Kantong tersebut hingga kini masih digunakan Prijanto, setidaknya dalam menulis opini di sejumlah media. "Saya itu senang sekali nulis dan baca. Sudah banyak tulisan saya di media cetak. Nah, identitas saya dalam setiap tulisan dan opini itu disamarkan dengan menggunakan nama kecil saya Kantong Prijanto," tukasnya.

Kapasitas Prijanto dalam setiap opini yang dibuat selalu berganti-ganti sesuai dengan tema tulisan. "Kadang pihak redaksi menggunakan status sebagai pengamat politik ketika tulisan saya bicara soal politik, dan kalau tulisan saya soal HAM, maka redaksi menulis saya sebagai pengamat HAM," ungkap jenderal murah senyum tersebut.

Mengenai hobi, Prijanto mengaku gemar berolahraga, terutama bowling dan tennis. Bahkan ia juga pernah menjadi Ketua Umum Olahraga Bowling DKI Jakarta selama dua periode. Iklim Demokrasi di Militer Mengenai adanya kekhawatiran pemerintahan negeri ini akan kembali otoriter di bawah kepemimpinan militer, sebagai pengamat politik, Prijanto justru menegaskan bahwa budaya kekerasaan dan otoritarianisme di tubuh militer dalam konteks negative tidak ada. "Semua berjalan sesuai kaidah untuk tujuan yang mulia," ujarnya diplomatis.

Bahkan, lanjut mantan Asisten Teritorial KASAD itu, dalam menyusun sebuah kebijakan, pimpinan telah mendiskusikan terlebih dahulu dengan anak buah yang memang berkompeten di bidangnya. "Dari data dan informasi yang diperoleh, kemudian pimpinan dan para perwira bermusyawarah untuk mencari solusi mengatasi permasalahan tersebut. Altematif cara bertindak sebagai landasan keputusan yang dihasilkan pun tidak hanya satu. Ada beberapa alternatif cara bertindak. Tentu kita akan pilih alternatif yang memiliki resiko terendah," jelas Prijanto.

Biodata Mayjen (Purn) Prijanto
Nama : Prijanto
TTL: Ngawi Jawa Timur, 26 Mei 1951
Agama : Islam
Istri : Widyastuti Endang S.
Anak : Dua orang

Perjalanan Karier
1992 Komandan Batalyon Armada Pertahanan Udara Sektor 6 Kodam Jaya
15 September 2000 dipromosikan menjadi perwira menengah ahli Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Bidang Sosial Budaya
1969 Prijanto melanjutkan pendidikan di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI)
1 Desember 1975 mulai bertugas menjadi Komandan Peleton I/B Yonarhanudri-15 mulai 1 Agustus 1976.
1975 mengikuti Operasi Seroja dan Operasi Flamboyan di Timor Timur
1 Juli 1995 Letkol Prijanto bertugas menjadi Kepala Staf Pribadi (Kaspri) Pangdam Jaya Mayjen Hendro Priyono
15 Oktober 2002 Prijanto menjabat Dandenma Mabes AD
24 Oktober 2003 Menjadi Kasgartap 1 Jakarta
10 November 2003 Prijanto berpangkat Brigadir Jenderl (Brigjen)
6 Mei 2006 Menjadi Asisten teritorial (Aster) KSAD
30 Mei 2007 mengundurkan diri dari TNI AD karena maju pada Pilkada DKI 2007.
sumber http://www.beritajakarta.com