Prof. Dr. Subroto Necis dengan Dasi Kupu-Kupu




Gaya penampilannya khas, necis, mengenakan stelan jas gelap dengan dasi kupu-kupu. Mantan Menteri Pertambangan ini selalu serius bila diajak bicara tentang migas yang kerap disebut sebagai emas hitam itu. Mimiknya selalu menjadi serius. Sebagai mantan Sekjen OPEC (organisasi negara-negara penghasil minyak), di memang punya perhatian khusus terhadap sektor yang pernah menjadi primadona bagi penerimaan nasional itu.

Dia adalah orang Indonesia kedua menjabat Sekjen OPEC. Pejabat Indonesia yang pernah menduduki Presiden OPEC diantaranya M. Sadli tahun 1976, Dr Subroto tahun 1980, dan I.B Sujana tahun 1997. DR Purnomo Yusgiantoro selain menjabat Sekjen juga menjabat Presiden OPEC.

Tapi tumpleknya rezeki minyak tinggal kenangan. Itu ditunjukkan dengan ekspor migas yang belakangan makin berkurang, bahkan persediaan minyak sudah semakin menipis. Adakah kebijakan di masa lalu yang salah? Menurutnya, tentunya gampang orang menyalahkan waktu yang telah lalu. Tapi pada waktu kejadian itu kan orang tidak bisa mempunyai gambaran yang jelas.

Periode minyak bisa dilihat sebagai berikut. Pertama, periode 1969--1979. Dalam kurun waktu ini kita mendapatkan hasil dari minyak yang baik. Pada 1969--1982 itu harga naik dari US$3 ke US$12, lalu menjadi US$34 per barel. Apakah waktu itu kita tidak mempergunakan dana dengan baik? Menurut saya cukup baik, barangkali malah yang terbaik dibandingkan dengan negara-negara lain yang menjadi eksportir yang kemudian mengalami macam- macam masalah seperti Nigeria, Irak, dan Meksiko.

Kita pada waktu itu pintar mempergunakan uang, terutama untuk membangun sektor pertanian yang kuat. Saya kira kita berhasil dengan baik dalam hal penggunaan dana yang tepat. Saya kira pikiran kita cukup rasional memanfaatkan dana itu. Ada tentunya kecelakaan pada 1975 ketika Pertamina mengalami krisis tapi akhirnya dapat diatasi.

Kedua, periode 1982--1986. Periode sebelumnya adalah masa yang membuat potensi di luar minyak terbengkalai. Kurun sampai pertengahan 1980-an ini pemerintah mulai menyadari bahwa titik tertinggi harga minyak sudah tercapai, karena itu sesudahnya akan turun. Ketiga, pasca 1986 sampai sekarang. Pada periode ini terpaksa kita mengambil langkah-langkah dan mencari sumber-sumber pembiakan lainnya. Ada yang bisa memanfaatkan dengan cepat dan ada yang kurang bisa. Di sinilah pokok dari permulaan kesenjangan.

Cadangan minyak kita sering dikabarkan segera habis. Menurutnya, itu bisa terjadi kalau kita tidak berbuat apa-apa. Yang ia maksud ''berbuat'' ada empat hal. Pertama, peningkatan eksplorasi. Saat ini cadangan belum terbukti sekurang-kurangnya ada 40 miliar barel, terletak di daerah-daerah sulit atau frontier. Kalau ini bisa ditemukan, taruhlah seperempatnya saja, itu kan memperpanjang usia kita. Untuk itu kita perlu bersaing memberikan insentif kepada pemodal agar mau mengeksplorasinya. Jangan justru membuat peraturan-peraturan yang lebih ketat dari negara-negara lain.

Kedua, kita bisa melakukan langkah-langkah penghematan. Misalnya mengatur penggunaan minyak secara ketat. Ketiga, penggunaan teknologi eksplorasi dan produksi yang mutakhir. Umpamanya, di dalam eksplorasi ada teknologi EOR (enhanced oil recovery) yang bisa meningkatkan produksi tanpa menemukan cadangan baru. Teknologi ini bisa menaikkan cadangan yang bisa dikuras dari 25 persen menjadi 40 sampai 45 persen dari cadangan terbuktinya.

Keempat, penggunaan teknologi baru dalam gas alam, terutama untuk pembangkit tenaga listrik, combined cycle. Itu bisa meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar dari 20 persen seperti sekarang menjadi 40 persen. Dengan penerapan-penerapan ini, kita bisa memperpanjang usia.

Apa saja yang harus dilakukan agar upaya memperpanjang usia kita sebagai eksportir bisa berhasil? Pertama, kita masih mempunyai cadangan yang belum terbukti. Kedua, kalau tidak kita kerjakan, itu kayaknya tidak akan menarik manfaat, tetapi kalau dikerjakan ongkosnya lebih tinggi daripada yang biasa. Nah, kita harus berani memberikan suatu insentif bagi kontraktor itu sehingga mereka masih mendapatkan keuntungan yang layak. Dan, kita pun menyadari bahwa kompetisi dari tetangga kita itu ketat sekali. Jadinya, pemerintah ini harus membandingkan kerugian jangka pendek dengan keuntungan jangka panjang.

Kalau kita tidak memberikan insentif apa-apa, tentunya dalam jangka pendek ini mungkin penerimaannya tidak berkurang, tapi jangka panjang tentu tidak ada apa-apa. Karena (pendapatan minyak) kita sudah turun dan justru akan menjadi importir pada 2005 atau 2020, saat harga diperkirakan akan naik menjadi US$28 per barel. Jadi kalau kita tidak berani mengambil risiko dalam jangka panjang, tentunya kita akan kehilangan dua hal, yaitu impor kita tinggi dan kehilangan ekspor yang nilainya tinggi juga. Tapi, kalau kita sekarang berani memberikan insentif, mungkin dalam jangka pendek itu agak menurunkan penerimaan kita, tapi dalam jangka panjang ada kemungkinan untuk memperoleh keuntungan yang lebih banyak dan tidak menjadi importir di dalam 20 atau 25 tahun mendatang.

Menurutnya, sekarang pemerintah sudah harus menentukan pilihan. Pertama, tak perlu mengadakan tindakan apa-apa. Artinya, menjadi importir pun tak apa-apa karena negara-negara lain toh banyak juga yang jadi importir minyak tetapi tetap tumbuh terus. Kalau pilihannya ini, berarti kita harus mampu membeli minyak yang harus kita impor. Konsekuensi berikutnya, sektor non-minyak dan gas harus kita siapkan untuk bisa meningkatkan kemampuannya, sehingga jika kita mengimpor tak jadi masalah. Itu berarti kita harus membuat suatu proyeksi pengembangan sektor mana yang akan mampu mengekspor senilai yang kita butuhkan.

Pilihan kedua, kita akan mengembangkan minyak secara sadar, karena memang menyadari mungkin pendapatan jangka pendek berkurang. Tapi menjadi importirnya mungkin tidak dalam waktu 15 atau 20 tahun lagi. Mungkin dari cadangan 40 miliar barel itu bisa dikembangkan 10 miliar barel. Ini kan ada keuntungannya daripada sama sekali tidak mengadakan suatu upaya apa pun.

Mengenai pola bagi hasil, dia mengatakan pola bagi hasil itu yang pertama mengeluarkan kita sekitar tahun 1965 oleh Pak Ibnu (Dirut Pertamina waktu itu, Ibnu Sutowo). Dasar pikirannya jelas sekali karena kita tidak mempunyai uang untuk melakukan eksplorasi yang berisiko tinggi, maka kita suruh orang lain untuk melakukannya. Kalau tidak mendapatkan minyak, ya, sudah. Tapi kalau mendapatkan minyak kita adakan bagi hasil.

Dan pada mulanya harganya meningkat terus, dari tiga dolar, 12 dolar sampai 34 dolar. Maka, berani saja kontraktor itu mengambil risikonya. Tapi sekarang kita hidup di dalam suatu suasana harga hanya datar saja. Oleh karena itu mereka ingin supaya risikonya itu sama-sama ditanggung. Untuk masa yang akan datang, ada perkiraan menjelang 2015 harga akan tinggi, sampai US$28 per barel. ►tsl

Nama :Prof. Dr. Subroto
Lahir:19 September 1928
Jabatan Penting:Menteri Pertambangan
Sekjen OPEC 1980

Sumber:Tempo Edisi 32/01 - 02/Okt/1996
*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)