ATASI TERORISME, TNI BANTU POLRI SESUAI PROSEDUR



04 Sep 2009


KODAM I/BB (4/9),- Pangdam I/BB Mayjen TNI Burhanuddin Amin mengatakan, untuk mengatasi terorisme, prajurit TNI jajaran Kodam I/BB siap membantu Polri sesuai dengan prosedur, namun akan langsung menangkap jika teroris ada di depan mata.


Sikap Kodam I/BB itu disampaikan Pangdam Mayjen TNI Burhanuddin Amin dalam dialog interaktif di RRI Medan, Rabu (3/9) bersama Ketua MUI Prof DR Muhammad Hatta serta tokoh masyarakat Prof. Dr. Ir. Zulkarnain Lubis dengan pemandu acara Yustianto.


Menurut Pangdam, dari sisi hukum, masalah teroris merupakan kewenangan kepolisian.


”Ditinjau dari aspek hukum polisi yang mengatasinya , TNI membantu apabila diperlukan sesuai prosedur tapi apabila kita menemukan teroris di depan mata, apa kita harus menunggu?”, ujarnya.


Jenderal dengan tanda dua bintang di pundak ini mengatakan, kesiapan memberikan bantuan disebabkan terorisme sebagai masalah dan semestinya diatasi secara bersama-sama.


”Apabila TNI dan rakyat menemukan, tangkap cepat lapor ke polisi karena kegiatan terorisme ini cepat sekali hanya ada dua pilihan, yaitu kita mati atau dia mati” kata Pangdam I/BB dengan tegas.


Lebih lanjut pimpinan tertinggi di Kodam I/BB itu berujar, teror merupakan perbuatan terencana, dan sutradaranya orang yang intelek. Sementara itu, pelaku di lapangan belum tentu orang-orang yang intelek.


Dalam prediksinya, pelaku bom bunuh diri dibayar, sudah dididik sekian lama dan disisipkan pendekatan agama untuk berjihad.


“Tapi keliru dan itu adalah pelaku-pelaku di lapangan yang telah disesatkan sehingga mau melaksanakan bom bunuh diri” kata Pangdam yang ketika itu didampingi Kapendam I/BB Letkol Caj Dr. H. Asren Nasution MA.


Pada kesempatan itu, ia juga menyoroti peran media massa. Dengan teknologi yang sudah maju, tambahnya, teror bisa saja dilakukan melalui media cetak maupun media elektronik dan lainnya. Itu untuk membuat orang resah.


Senada dengan Pangdam, Prof. Dr. Ir. H. Zulkarnain Lubis mengungkapkan banyak faktor orang menjadi teroris. Kurangnya pemahaman agama, pendidikan, pengalaman, informasi dan faktor ekonomi bisa menjadi penyebab.


Selain itu, ketidakmampuan membedakan yang baik dan yang buruk karena kemampuan intelektual di bawah rata-rata, juga dapat mempengaruhi.


Tokoh masyarakat ini juga menghimbau agar semua pihak menyikapi terorisme sebagai musuh bersama.


Menurutnya, tekad kebersamaan efektif untuk menumpas dan menanggulangi di Indonesia ini. Ia mengatakan tidak menghendaki Indonesia seperti negara lain yang yang setiap hari ada bom meledak dan membunuh banyak orang.


Pada acara dialog interaktif yang disiarkan RRI Medan itu, Ketua MUI Sumut Prof. Dr. Muhammad Hatta mengatakan, teroris adalah orang-orang yang berperilaku menyimpang.


Ia menjelaskan, teroris bukan orang Islam tapi hanya dikaitkan dengan orang Islam. Menurut tokoh agama ini, sesungguhnya orang islam sendiri jauh dari pemahaman tersebut karena tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan norma agama.